[ADAKAH YANG LEBIH DAHSYAT SELAIN MEMAAFKAN?]

May 28, 2017
[MENGAPA KITA HARUS PEDULI PADA ISU KEKEJAMAN DALAM RUMAH TANGGA?]
July 9, 2017

[ADAKAH YANG LEBIH DAHSYAT SELAIN MEMAAFKAN?]

Mumpung masih dalam suasana Hari Raya Idul Fitri 1438 H, ijinkanlah saya dan keluarga menyampaikan permohonan maaf lahir dan batin atas segala kesalahan, prasangka, salah texting, salah omong & salah berperilaku selama ini.

Topik memaafkan memang merupakan hal yang sangat penting dalam proses terapi. Pernahkah Anda menyadari, bahwa hanya orang yang berjiwa besar yang mampu memaafkan dengan sungguh-sungguh. Jiwa yang miskin, kerdil dan pengecut tentu tidak punya kemampuan untuk memaafkan. Hanya orang yang memiliki kapasitas unggul yang bisa “memberi maaf” (=”to forgive”), karena bagaimana seseorang bisa “memberikan sesuatu” kalau dia sendiri tidak “memiliki sesuatu” itu? Bagaimana orang bisa memberi maaf kalau jiwanya sendiri kering kerontang penuh luka-luka akibat marah dan dendam?

Anda pasti pernah, khan, mendengar ujaran trainer kelas dunia Anthony Robbins, bahwa memaafkan adalah hadiah terindah yang dapat Anda berikan untuk diri Anda sendiri.  Ya, tepat sekali, memaafkan memang tidak mengubah masa lalu, tapi yang jelas memperbesar masa depan Anda, ibaratnya seperti mengosongkan gelas penuh jiwa Anda agar hal-hal positif lain bisa Anda ijinkan datang dalam hidup ini.
Kalau Anda tidak bersedia memaafkan, itu sama saja dengan memunggungi masa depan Anda. Tapi jika Anda bersedia memaafkan, maka Anda berjalan lancar jaya maju menuju masa depan yang lebih gemilang.

Memaafkan hal-hal yang tak bisa dilupakan berarti kita menciptakan suatu ingatan yang baru. Dan karena kita adalah penguasa bagi pikiran kita sendiri, kita mampu mengubah ingatan tentang masa lalu dan menciptakan harapan akan masa depan yang lebih cerah. Sejatinya, memaafkan itu bukanlah mendatangkan keuntungan untuk si pelaku, tapi untuk kemuliaan dan kesehatan jiwa kita sendiri.

Mungkin kemarahan, kekecewaan, sakit hati, dendam dan rasa ingin membalaskan itu berasal dari pengalaman masa lalu yang secara sadar sudah dicoba lupakan, tapi ternyata diam-diam mengendap di bawah sadar, seperti duri dalam daging. Dengan memendam marah, sakit hati & dendam, sebenarnya sama saja membiarkan diri Anda terikat pada orang itu atau situasi itu dengan tali emosi yang ternyata lebih kuat dari pada baja. Nah, satu-satunya cara untuk memutuskan ikatan tali baja itu adalah dengan memaafkan.  Adakah yang lebih dahsyat selain memaafkan?

Menolak memaafkan sama seperti orang yang disiram kotoran, tapi menolak untuk mandi membersihkan kotoran itu, hanya karena ingin membalas melempar kotoran kepada pelakunya. Lha, siapakah yang akan menderita dan sakit hati sepanjang umurnya? Anda atau dia?  Pelakunya bahkan mungkin tidak menyadari ia sudah menyakiti Anda. Atau bahkan ia sudah lupa peristiwa itu. Sementara Anda terpenjara bertahun-tahun dalam ingatan masa lalu, gak bisa move on…

Tentu saja, memaafkan bukan berarti melupakan, seperti kata Nelson Mandela, negarawan hebat dari Afrika yang pernah mengalami masa-masa sulit dan dipenjara akibat perjuangannya melawan apartheid. Memaafkan juga bukan berarti Anda menyetujui tindakan orang yang sudah membuat Anda sakit hati atau marah. Demikian juga, memaafkan bukan berarti membiarkan orang itu melakukan kembali perbuatan itu kepada Anda. Toh, orang itu tidak perlu tahu bahwa Anda bersedia memaafkan dia? Wong, ini semua demi kestabilan jiwa Anda sendiri, bukan?

Untungnya, proses ini bisa dibantu teknik terapi di tangan professional seperti saya selalu lakukan pada klien-klien yang membutuhkan bantuan untuk membebaskan diri dari belenggu marah dan dendam di masa lalu. Apakah Anda sekarang juga sudah siap membebaskan diri dari ikatan emosional yang menggangu itu?

Dr. Baby Jim Aditya M.Psi., Psikolog.

Seksolog, Hypnoterapis & Life Coach

Klinik Angsamerah, Menteng, Jakarta Pusat

tlp 021.316.0251

WA 0812 9000 7878

www.babyjimaditya.com

Baby Jim Aditya
Baby Jim Aditya
Psikolog, seksolog, aktivis kemanusiaan dalam bidang penanggulangan HIV/AIDS, penyalahgunaan narkotika dan penguatan perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *